Oleh: Riki Irfan ST M.Si. (Dosen Universitas Islam Al-Ihya Kuningan)
CiremaiNews.id- Saat ini kita tengah memasuki Musim kemarau, sebetulnya merupakan hal yang relative rutin, namun pada beberapa kondisi, misalnya tahun ini, dibeberapa belahan dunia kemarau dapat berlangsung lebih panjang dan lebih kering akibat pengaruh fenomena El Nino. Curah hujan berkurang secara drastis, meningkatnya suhu udara, menurunnya ketersediaan air bersih, serta meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan.
Sebagai warga yang tinggal di wilayah Indonesia yang beriklim tropis, kemarau dan kekeringan bukan satu hal tidak dapat terjadi. Saat ini, terdapat beberapa daerah di Indonesia mengalami kekeringan dan kekurangan air bersih, pemerintah dan masyarakat bahu membahu mengatasi hal itu. Bagi kita warga lainnya, meskipun tidak mengalami kekeringan, tetap kita memiliki tanggung jawab untuk menjaga lingkungan khususnya menjaga hutan sebagai pasokan air bersih bagi kita semua.
Dalam pandangan Islam, manusia telah diberikan Amanah dari Allah untuk menjdai khalifah sekaligus agar menjaga lingkungan dan tidak berbuat kerusakan di bumi. Kita perlu ingat bahwa bencana yang terjadi pada manusia akibat alam pada dasarnya terjadi diakibatkan karena ulah manusia itu sendiri, sebagaimana Firman Allah dalam Al-Qur’an: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar.” (QS. Ar-Rum: 41).
Mengenal El Nino dan Dampaknya
El Nino merupakan fenomena meningkatnya suhu permukaan laut di wilayah Samudra Pasifik bagian tengah dan timur. Kondisi ini menyebabkan perubahan pola sirkulasi atmosfer sehingga distribusi curah hujan di wilayah Indonesia berkurang secara signifikan. Akibatnya, musim kemarau menjadi lebih panjang dan lebih kering dibandingkan kondisi normal.
Beberapa dampak yang dapat dirasakan oleh Masyarakat akibat el-Nino ini antara lain: Berkurangnya ketersediaan air bersih, Menurunnya debit sungai, mata air, dan sumur warga, Meningkatnya suhu udara dan risiko gangguan Kesehatan, Penurunan hasil pertanian akibat kekurangan air.
Meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan, dan Terganggunya keseimbangan ekosistem dan habitat satwa liar. Fenomena el-Nino bukan hanya urusan cuaca, tetapi akan berdampak langsung terhadap kehidupan sosial, ekonomi, kesehatan, dan ketahanan pangan Masyarakat, apabila tidak dimitigasi dengan baik.
Resiko Kebakaran Hutan dan Lahan di Musim Kemarau
Musim kemarau panjang dapat menyebabkan kondisi pepohonan dan daun menjadi kering sehingga mudah terbakar. Tapi yang sering terjadi adalah kebakaran hutan tidak terjadi secara alami, melainkan dipicu oleh aktivitas manusia seperti membakar sampah, membuka lahan dengan cara dibakar, atau membuang puntung rokok sembarangan di sekiatar ladang kebun atau hutan.
Berikut ini adalah beberapa dampak kebakaran hutan, antara lain: Hilangnya kawasan hutan dan keanekaragaman hayati, Matinya satwa liar dan rusaknya habitat alam, Menurunnya kualitas udara akibat asap, Meningkatnya gangguan kesehatan pernapasan, Berkurangnya daya resap air dan meningkatnya risiko kekeringan di masa mendatang, dan tentu saja kerugian ekonomi dan fisik bagi Masyarakat sekitar hutan. Maka, pencegahan kebakaran hutan tentu seharusnya merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen Masyarakat, bukan hanya para petugas kehutanan.
Menghadapi musim kemarau yang disertai El Nino, kita harus melakukan upaya bersama sejak dini. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain: Menghemat dan Mengelola Air, Melakukan Penghijauan, Mencegah Kebakaran, Mendukung Ketahanan Pangan, Menjaga Kesehatan pribadi dan Masyarakat.
Menjaga Hutan sama dengan Menjaga Kehidupan
Bagi warga Indonesia, hutan merupakan salah satu sistem penyangga kehidupan yang sangat penting. Hutan berfungsi sebagai penyimpan air hujan, penghasil oksigen, pengatur iklim mikro, pelindung tanah dari erosi, serta habitat berbagai flora dan fauna. Kerusakan hutan dapat menyebabkan terganggunya tata air dan meningkatnya risiko bencana ekologis.
Jika musim kemarau tiba, wilayah dengan tutupan hutan yang baik biasanya lebih mampu mempertahankan ketersediaan air tanah dibandingkan daerah yang mengalami deforestasi (hutan gundul). Pohon-pohon yang ada di hutan membantu menyerap dan menyimpan air hujan ke dalam tanah sehingga dapat menjadi cadangan air pada musim kering.
Dalam syariat Islam, menanam dan memelihara pohon termasuk amal yang bernilai sedekah. Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda: “Tidaklah seorang Muslim menanam pohon atau tanaman lalu dimakan oleh burung, manusia atau hewan, melainkan menjadi sedekah baginya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Menjaga Lingkungan sebagai Wujud Nyata Syukur kepada Allah
Lingkungan alam yang indah dan sehat merupakan nikmat besar yang sering kali baru disadari ketika rusak atau hilang. Hutan yang lestari, udara yang bersih, tanah yang subur, serta air yang melimpah adalah karunia Allah yang wajib dijaga.
Sebagai umat Islam, kita tidak cukup hanya menikmati manfaat alam, tetapi juga berkewajiban memelihara bumi termasuk hutan ini untuk generasi mendatang. Menjaga lingkungan bukan semata-mata tugas pemerintah, petugas kehutanan, atau kelompok pecinta alam.
Tanggung jawab tersebut jatuh pada kita semua seluruh masyarakat Indonesia. Setiap orang dapat berkontribusi melalui tindakan sederhana seperti menghemat air, menanam pohon, menjaga kebersihan sungai, serta mencegah kebakaran hutan dan lahan.
Musim kemarau yang disertai adanya fenomena El Nino juga merupakan bagian dari sunnatullah yang terjadi di bumi. Meskipun manusia tidak dapat mencegah musim dan el-Nino, namum kita dapat mempelajari apa saja dampak yang akan terjadi dan kita bekerjasama untuk memitigasi dan meminimalkan dampak negatifnya melalui persiapan yang baik, pengelolaan sumber daya alam yang bijaksana, serta kepedulian kolektif terhadap lingkungan.
Dengan mengamalkan nilai-nilai syariat Islam, meningkatkan kesadaran lingkungan, dan bergotong royong melakukan mitigasi, insya Allah kita dapat menjaga kelestarian alam sekaligus melindungi kehidupan masyarakat dari risiko kekeringan dan kebakaran hutan.
Sebagai bangsa yang percaya kepada Allah Tuhan yang maha Esa, mari kita buktikan keimanan kita, kesyukuran kita kepada Allah dengan berupaya maksimal menjaga bumi, melestarikan hutan, menghemat air, dan mencegah kebakaran hutan. Semoga tulisan ini bermanfaat sebagai pengingat untuk penulis pribadi dan pembaca sekalian. Mari berdoa agar kita tetap dilindungi dan diberikan kemampuan untuk bersyukur kepada Allah, salah satunya dengan menjaga kelestarian alam di sekitar kita. Wallahu a’lam bish-shawab.












