Riki Irfan ST M.Si. (Dosen Universitas Islam Al-Ihya Kuningan)
CiremaiNews.id- Setiap manusia memiliki satu sumber daya yang sama: waktu. Orang kaya maupun miskin, pejabat maupun rakyat biasa, ilmuwan maupun pekerja lapangan, semuanya memperoleh jatah waktu yang sama yaitu 24 jam setiap hari.
Yang membedakan mereka bukanlah jumlah waktunya, melainkan bagaimana manusia memanfaatkan waktu hidupnya, apakah sekedar mencari makan kekuasaan dan mengabaikan kewajiban mengabdi dan beribadah kepada Tuhan yang maha kuasa?.
Dalam kehidupan sekarang, sudah menjadi umum bahwa kebanyakan manusia senantiasa disibukkan oleh rutinitas, hiburan, liburan dan berbagai aktivitas yang sering kali hanya demi kesenangan dunia dan terkadang tidak memberikan nilai tambah bagi perkembangan diri secara spiritual sebagai mahluk Tuhan.
Tanpa kita sadari, waktu cepat berlalu, usia kita bertambah, sisa umur berkurang namun kualitas diri sebagai orang beriman tidak juga mengalami peningkatan. Banyak dari kita baru menyadari pentingnya waktu meningkatkan kualitas diri, saat waktu kepulangan itu hampir tiba, saat sudah tua renta dan sakit sakitan.
Pada kesempatan ini, penulis akan merangkumkan dari berbagai sumber agar kita semua dapat Bersama sama memperbaiki kualitas diri kita berpacu dengan waktu kepulangan (meninggal) itu tiba. Bagi yang beriman pada hari akhir, mari manfaatkan waktu kita yang tersisa untuk memperbanyak amal kebaikan dan ketakwaan kepada Allah. Memperbaiki kualitas diri sebagai orang beriman disisa waktu kita bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.
Waktu yang terus berjalan dengan cepat menuntut kita untuk segera bertaubat, terus belajar ilmu tentang hakikat kehidupan dunia dan akhirat, agar kita dapat mengakhiri waktu kita di dunia dengan telah menjadi pribadi yang lebih berbaik bertakwa dibanding hari sebelumnya.
Waktu adalah Aset yang Tidak Dapat Digantikan
Waktu merupakan anugerah yang sangat berharga dari Allah Tuhan yang maha esa, dan waktu tidak mungkin diputar kembali. Setiap detik yang berlalu akan menjadi bagian dari sejarah hidup yang tidak dapat diulang. Secara ilmiah, konsep ini selaras dengan teori ekonomi perilaku yang menyebut waktu sebagai sumber daya langka (scarce resource).
Berbeda dengan uang yang dapat dicari kembali, waktu yang hilang tidak dapat dibeli kembali berapa pun harganya. Penelitian psikologi menunjukkan bahwa individu yang mampu mengelola waktunya secara efektif cenderung memiliki tingkat kebahagiaan, produktivitas, dan kesejahteraan mental yang lebih tinggi dibanding mereka yang hidup tanpa perencanaan.
Waktu adalah modal utama kehidupan, siapa yang tidak mengisinya dengan keimanan, amal saleh, dan kebaikan, sungguh sedang mengalami kerugian yang terbesar karena tidak ada yang tahu kapan waktu kita meninggal dunia.
Hidup Berjalan Lebih Cepat Dari Yang Kita Bayangkan
Sebuah kenyataan yang sering dirasakan hampir semua orang adalah cepatnya perjalanan usia. Masa kecil terasa seperti baru kemarin, padahal kini banyak orang telah memasuki usia dewasa atau bahkan lanjut usia.
Fenomena ini dalam ilmu psikologi disebut sebagai time acceleration effect, yaitu kecenderungan manusia merasakan waktu berjalan semakin cepat seiring bertambahnya usia. Ketika masih anak-anak, satu tahun terasa sangat panjang. Namun setelah manusia dewasa, satu tahun sering terasa berlalu dalam sekejap. Kesadaran bahwa umur terbatas seharusnya menjadi motivasi bagi orang beriman untuk lebih serius dalam memperbaiki diri, bukan justru menjadi alasan untuk menunda perubahan (taubat) dan menjadi lebih bertakwa.
Mengapa Banyak Orang Menunda Perbaikan Diri?
Semua manusia tentu menginginkan mendapatkan kehidupan yang lebih baik seiring usia yang bertambah, namun tidak sedikit yang terus menunda untuk berubah memperbaiki diri. Fenomena ini dalam psikologi dikenal sebagai procrastination atau kebiasaan menunda.
Ada beberapa penyebab orang malas berubah (memperbaiki diri), antara lain karena takut gagal, terlalu nyaman dengan kondisi saat ini, kurangnya memahami tujuan hidup, tidak memiliki disiplin diri dan bahkan bisa jadi karena terlalu banyak gangguan luar (dari info digital atau media sosial).
Mari kita ingat Kembali bahwa
sikap menunda-nunda pekerjaan dan menunda berbuat kebaikan itu sangat merugikan manusia, karena kenyataannya tiap individu tidak pernah mengetahui berapa banyak lagi sisa waktunya hidup di dunia. Perubahan besar biasanya tidak gagal karena kekurangan kemampuan, tetapi karena terlalu sering ditunda. Mari berubah dan jangan menunda untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Kebiasaan Harian mempengaruhi Kualitas Diri
Perbaikan diri tidak selalu dimulai dari langkah besar. Justru perubahan paling kuat sering lahir dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten. Dalam syariat islam kita perlu berusaha berubah memperbaiki diri agar Allah mengubah keadaan kita, Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya, dan selain dari-Nya tak ada pelindung bagi mereka.” (QS. Ar-Ra’d: 11).
Dalam ilmu psikologi perilaku, James Clear dalam bukunya konsep Atomic Habits menyebutkan bahwa peningkatan kecil sebesar 1% setiap hari dapat menghasilkan perubahan yang sangat besar dalam jangka Panjang. Dalam praktiknya, kualitas diri dapat ditingkatkan dengan memulai membiasakan diri seperti berikut: tidur dan bangun lebih awal, melaksanakan sholat 5 waktu secara disiplin dan tepat waktu (bagi muslim), membaca alquran dan buku setiap hari, berolahraga secara rutin, Menjaga kesehatan fisik dan mental, meningkatkan kemampuan komunikasi, mengurangi penggunaan media sosial berlebihan,
Meningkatkan kemampuan komunikasi dan melakukan evaluasi diri (muhasabah) secara berkala setiap sebelum tidur. Salah satu langkah penting dalam memperbaiki kualitas diri adalah introspeksi atau evaluasi diri. Kita sebagai manusia perlu senantiasa memperbaiki diri, meninggalkan kebiasaan buruk, dan memanfaatkan sisa waktu dengan sebaik-baiknya.
Orang yang rutin mengevaluasi dirinya akan lebih mudah berkembang dibanding mereka yang selalu merasa dirinya sudah cukup baik. Kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus akan membentuk karakter, sedangkan karakter akan menentukan kualitas hidup seseorang.
Menjaga Keseimbangan Dunia dan Akhirat
Perbaikan kualitas diri bukan hanya tentang karier, pendidikan, atau pencapaian materi. Manusia juga memiliki dimensi spiritual yang membutuhkan perhatian. Dalam Al-Qur’an Allah berfirman: “Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 1-3).
Ukuran keberhasilan manusia tidak hanya dilihat dari pencapaian duniawi, tetapi juga dari kualitas iman, amal, dan kontribusi kepada sesama. Seseorang mungkin sukses secara finansial, namun jika kehidupannya tidak memberi manfaat, maka kesuksesan tersebut belumlah sempurna.
Menjadi Versi Terbaik Dari Diri Sendiri
Banyak orang terjebak dalam kebiasaan membandingkan dirinya dengan orang lain. Padahal ukuran keberhasilan yang paling sehat adalah membandingkan diri kita hari ini dengan diri kita kemarin. Kita harus berfokuslah pada pertumbuhan pribadi, bukan semata memenangkan persaingan dari orang lain.
Beberapa pertanyaan untuk diri sendiri yang dapat kita cek secara berkala (harian, atau mingguan-misalnya setiap jumat), antara lain: apakah saya sudah lebih disiplin dari kemarin?, apakah ilmu saya bertambah?, apakah akhlak saya jadi lebih baik?, apakah manfaat saya bagi orang lain semakin besar?. Tanya dan jawab secara jujur pada diri sendiri, agar kita terus bergerak menuju kualitas diri yang lebih baik.
Waktu terus berjalan tanpa pernah menunggu kita bertaubat. Setiap detik yang berlalu adalah bagian dari umur yang tidak akan kembali. Maka jangan menunggu usia menua, masalah membesar, atau penyesalan datang untuk mulai berubah menjadi lebih baik. Segera mulailah hari ini (sekarang juga).
Perbaiki satu kebiasaan buruk, tambah satu ilmu baru, tingkatkan satu amal kebaikan, dan buat satu langkah nyata menuju kehidupan yang lebih bermakna. Pada akhirnya, keberhasilan hidup bukan ditentukan oleh seberapa lama kita hidup, tetapi oleh seberapa baik kita memanfaatkan waktu yang telah diberikan kepada kita untuk bertakwa kepada Allah yang maha kuasa, bermanfaat kepada sesame manusia.
Maka sebelum waktu habis, mari berpacu dengannya dan terus memperbaiki kualitas diri agar hidup menjadi lebih bernilai, bermanfaat dan mari kumpulkan sebanyak banyak amal kebaikan dan ketakwaan sebagai bekal terbaik untuk masa depan kita yang abadi di akhirat. Wallahu alam bishawab.











