CiremaiNews.id,Cirebon – Rumah Sakit Daerah (RSD) Gunung Jati Cirebon menangani 64 pasien yang mengalami gejala dugaan keracunan makanan sejak Selasa (21/10) sore.
Para pasien terdiri dari anak-anak TK, guru, orang tua murid hingga tim penyedia makanan.
Direktur RSD Gunung Jati Cirebon, dr. Katibi, M.K.M., mengatakan pasien mulai berdatangan ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) sejak pukul 17.50 WIB. Hingga Rabu (22/10) pukul 09.00 WIB, tercatat ada 62 pasien, kemudian bertambah dua orang.
“Pasien diduga keracunan mulai mendatangi IGD RSUD Gunung Jati sejak kemarin sore sekitar jam 17.50 WIB, menjelang magrib. Hingga Rabu pagi pukul 09.00 WIB, tercatat ada 62 pasien. Kemudian ada penambahan dua pasien lagi setelah pukul 09.00 WIB, sehingga total keseluruhan menjadi 64 pasien,” ujar Katibi.
Gejala yang dialami para pasien didominasi mual dan muntah. Korban berasal dari berbagai kelompok usia, mulai anak-anak hingga orang dewasa.
Berdasarkan data rumah sakit, korban terdiri dari sekitar 30 murid TK, dua guru, empat orang tua peserta didik, serta dua orang dari tim penyedia makanan atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Dari 62 pasien yang tercatat pada gelombang pertama, sebanyak 47 orang telah dinyatakan sehat dan diperbolehkan pulang untuk menjalani rawat jalan.
Sementara itu, 11 pasien masih menjalani rawat inap dan empat lainnya masih dalam pengawasan di IGD.
Katibi juga menegaskan tidak ada pasien yang meninggal dunia akibat kejadian tersebut. Ia memastikan kondisi pasien yang masih dirawat relatif stabil.
“Alhamdulillah, tidak ada korban meninggal dunia. Seluruh pasien yang dirawat saat ini dalam kondisi stabil di ruang rawat inap biasa dan tidak ada yang masuk perawatan intensif (ICU),” tegasnya.
Saat ini, tim medis fokus memberikan penanganan untuk meredakan gejala mual dan muntah sekaligus mencegah pasien mengalami dehidrasi berat.
Dugaan keracunan makanan tersebut masih perlu ditelusuri lebih lanjut untuk memastikan penyebabnya. Masyarakat diimbau tidak mudah menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, terutama terkait kondisi para korban.(Red)













