Ciremainews, Kuningan — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) tidak hanya menghanguskan vegetasi, tetapi juga mengancam kelangsungan hidup satwa liar.
Seekor bayi surili yang diperkirakan baru berusia tiga hingga empat hari berhasil diselamatkan anggota Masyarakat Peduli Api (MPA) Paguyuban Silihwangi Majakuning dan dikembalikan kepada induknya.
Bayi surili tersebut menarik perhatian karena bulunya tampak dominan putih hingga krem, kontras dengan kulit di sekitar wajahnya yang berwarna gelap kebiruan. Namun, warna bulu tersebut belum dapat dipastikan sebagai ciri alami bayi surili ataupun berkaitan dengan kondisi tertentu.
Diperlukan penjelasan dari ahli satwa atau petugas konservasi untuk memastikannya.Anggota MPA Paguyuban Silihwangi Majakuning, Dodo, menceritakan, penyelamatan bermula ketika dirinya bersama tim memantau kawasan hutan yang terdampak kebakaran di sekitar Bukit Gunung Dolang.
Mereka mendengar suara tangisan satwa dari arah pohon yang telah hangus terbakar.Saat ditemukan, bayi surili itu dalam kondisi lemah dan diduga telah cukup lama terpisah dari induknya.
Berdasarkan pemeriksaan fisik awal di lapangan, usianya diperkirakan baru tiga hingga empat hari, ditandai tali pusar yang masih basah dan baru mengering.Tim kemudian mengevakuasi bayi surili tersebut untuk menyelamatkan nyawanya. Dalam keterangan yang disampaikan, bayi surili itu sempat diberikan asupan susu putih sebagai bagian dari penanganan darurat.
Penyelamatan tidak berhenti pada evakuasi. Keesokan harinya sekitar pukul 10.00 WIB, tim menyusuri hutan sejauh kurang lebih 300 meter untuk mencari induk dan kelompok surili.
Pencarian tersebut membuahkan hasil setelah tim menemukan koloni yang terdiri atas lebih dari 15 ekor surili.Karena induk dan kelompoknya sempat menunjukkan rasa takut terhadap manusia, tim menempatkan bayi surili di lokasi aman agar induknya dapat mendekat.
Tak lama kemudian, induk beserta koloninya datang dan bayi surili itu kembali bersama kelompoknya.“Awalnya anakan surili ini teriak-teriak saat mau dilepasliarkan. Karena mendengar suara anaknya, induk surili akhirnya mendekati. Alhamdulillah, sekarang anak surili sudah ada di dekapan hangat induknya,” ujar Dodo dalam keterangannya, Jumat 23 Oktober 2026.
Kepala Balai TNGC, Toni Anwar, turut mengapresiasi kerja keras tim di lapangan sehingga bayi surili tersebut dapat kembali ke habitat alaminya bersama koloni induknya dengan selamat.
Penyelamatan ini menjadi bagian penting dari perlindungan satwa liar di tengah kebakaran yang melanda kawasan konservasi Gunung Ciremai. Selain penanganan api, kondisi satwa dan kerusakan habitat juga perlu diperhatikan agar dampak kebakaran terhadap ekosistem tidak semakin meluas.
Karhutla tidak hanya menyebabkan pepohonan terbakar, tetapi juga berpotensi menghilangkan sumber pakan, tempat berlindung, dan ruang hidup satwa. Bagi satwa yang hidup berkelompok, kerusakan habitat juga dapat meningkatkan risiko terpisahnya induk dan anak, seperti yang dialami bayi surili tersebut.
Ketua Paguyuban Silihwangi Majakuning, H. Nandar Junar Arif, mengatakan perlindungan Gunung Ciremai harus mencakup seluruh ekosistem, bukan hanya pemadaman api dan penyelamatan pepohonan.
“Kami hadir di sini tidak hanya untuk pemadaman karhutla dan bukan sekadar menyelamatkan tegakan pohon, tetapi juga menjaga kelestarian ekosistem flora dan fauna. Surili ini merupakan satwa dilindungi dan menjadi satwa kunci Gunung Ciremai, kebanggaan Jawa Barat,” kata Nandar saat dikonfirmasi, Jumat (23/10/2026) sore.
Menurut Nandar, keberadaan relawan di kawasan terdampak kebakaran merupakan bagian dari upaya menjaga kelestarian hutan dan satwa yang hidup di dalamnya. Gunung Ciremai memiliki fungsi ekologis penting, termasuk sebagai kawasan penyangga kehidupan dan sumber air bagi masyarakat di sekitarnya.
Ia menegaskan, perlindungan kawasan tidak cukup hanya dengan memadamkan api. Habitat yang rusak juga perlu mendapat perhatian agar flora dan fauna dapat kembali menjalankan perannya dalam ekosistem.
Sementara itu, warna putih hingga krem pada bulu bayi surili tersebut masih memerlukan penjelasan lebih lanjut dari pihak TNGC atau ahli satwa.
Kepastian mengenai karakteristik warna bulu dan kondisi kesehatannya penting agar informasi yang disampaikan kepada masyarakat tidak menimbulkan kesimpulan yang keliru.Penyelamatan bayi surili ini menjadi pengingat bahwa pelestarian Gunung Ciremai tidak semata-mata berkaitan dengan pemulihan pepohonan yang terbakar.
Perlindungan habitat, keselamatan satwa liar, pencegahan kebakaran, dan pemulihan ekosistem merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari konservasi.Menjaga Gunung Ciremai berarti menjaga kehidupan yang bergantung pada hutan, mulai dari satwa liar hingga masyarakat yang memanfaatkan fungsi ekologisnya. Karena itu, penanganan karhutla perlu berjalan seiring dengan komitmen jangka panjang untuk melindungi kawasan konservasi dari kerusakan yang lebih luas.














