Ciremainews, Kuningan — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kuningan membagi personel ke dalam sejumlah kelompok untuk mempercepat pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC).
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kuningan, Indra Bayu Permana, mengatakan sejumlah titik api masih dalam penanganan intensif. Petugas harus menempuh jalur berat dengan berjalan kaki untuk mencapai lokasi yang tidak dapat diakses kendaraan bermotor.
“Hingga saat ini masih terdapat titik api yang penanganannya tetap dilaksanakan secara intensif. Kami membagi tim ke dalam beberapa kelompok, namun memang ada kendala di sektor aksesibilitas menuju titik-titik tertentu yang sangat sulit dijangkau kendaraan,” ujar Indra Bayu Permana, yang akrab disapa IBE, Kamis malam.
Titik api pertama kali terpantau di grid 15 M, Blok Kebang Sapasang, dengan arah pergerakan menuju Bukit Seribu Bintang (BSB). Kondisi geografis kawasan tersebut membuat upaya pemadaman membutuhkan pengerahan personel secara langsung ke sejumlah titik kebakaran.
Selain medan terjal, petugas juga menghadapi kendala sinyal komunikasi yang tidak stabil. Meski demikian, BPBD Kuningan bersama tim gabungan terus berupaya mengendalikan api agar tidak meluas ke kawasan lain.
Penanganan darurat ini dilakukan menyusul instruksi dari Gubernur Jawa Barat, Sekretaris Daerah Jawa Barat, Bupati Kuningan, dan Wakil Bupati Kuningan untuk mempercepat penanggulangan kebakaran.
Sebelum bergerak ke lokasi penanganan lanjutan, tim melakukan koordinasi dan pergerakan dari kawasan Karang Dinding menuju area persawahan Sumur Kajayaan, kemudian merapat ke Pos Sinkup untuk mematangkan langkah penanganan di lapangan.
Sementara itu, Kepala Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), Toni Anwar, menyebut estimasi sementara luas kawasan yang terbakar mencapai 50–60 hektare. Pengukuran pasti belum dapat dilakukan karena api masih dalam proses pemadaman.
“Kita fokus pemadaman, mohon dukungannya. Alhamdulillah banyak dukungan dari berbagai pihak,” kata Toni melalui sambungan seluler, Kamis.
Dukungan penanganan datang dari unsur TNI, Polri, masyarakat, Masyarakat Peduli Api (MPA), Masyarakat Mitra Polhut (MMP), mitra wisata, pemerintah daerah, BPBD, serta relawan.
Selain memadamkan api, petugas juga membuat sekat ilaran api untuk membatasi penjalaran kebakaran. Balai TNGC berupaya mencegah api menyeberang ke wilayah Kabupaten Majalengka dengan menyiagakan petugas dari Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Majalengka bersama mitra terkait di perbatasan hutan Kuningan–Majalengka.
Koordinator Urusan Data, Evaluasi, Pelaporan, dan Kehumasan Balai TNGC, Eska Nata Suryana, menjelaskan bahwa areal yang terbakar didominasi kawasan terbuka berupa semak dan savana, dengan sebagian kecil vegetasi pinus.
Menurut Eska, karakteristik vegetasi di lokasi tersebut memberi kesempatan bagi satwa untuk menghindari kobaran api. Namun, hingga proses pemadaman selesai, luas pasti kawasan terdampak dan kondisi keseluruhan di lapangan belum dapat dipastikan.
Kebakaran diketahui sejak Rabu 21 Oktober 2026 malam. Hingga Kamis malam, tim gabungan masih berfokus memadamkan titik api, mengendalikan penjalaran kebakaran, serta mencegah api meluas ke wilayah lain.












