Oleh Riki Irfan ST M.Si. (Dosen Universitas Islam Al-Ihya Kuningan)
CiremaiNews,- Indonesia adalah salah satu negeri yang dianugerahi Allah dengan berbagai kekayaan alam, seperti hasil hutan, pertanian, hasil laut, minyak bumi, gas, berbagai bahan tambang dan juga memiliki potensi energi panas bumi yang sangat besar. Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), potensi panas bumi Indonesia diperkirakan mencapai 23 Giga Watt (GW), sekitar 40% dari total potensi panas bumi di dunia.
Namun, hingga saat ini, Indonesia baru memanfaatkan sekitar 2,7 GW (12% dari potensi yang ada), sebagian besar belum dimanfaatkan karena berbagai kendala, baik kendala modal maupun kendala dukungan semua pihak termasuk masyarakat, sehingga kita masih sangat ketergantungan dengan energi fosil (minyak bumi) dari negara lain.
Pada kesempatan ini penulis ingin merangkumkan dari apa yang penulis ketahui dan dari para ahli lainnya mengenai energi panas bumi. Sebagai bangsa yang beriman kepada Allah, kita yakin bahwa Energi panas bumi dan semua yang ada di bumi merupakan karunia yang luar biasa untuk kita manfaatkan dengan bijak. Allah telah berfirman: “Dialah yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu.” (QS. Al-Baqarah: 29).
Panas Bumi: Karunia Allah yang Langka dan Insitu
Tidak semua negara memiliki sumber daya panas bumi. Sedangkan Indonesia berada pada jalur cincin api dunia (Ring of Fire), sehingga memiliki sumber panas bumi yang melimpah dan berkualitas tinggi. Energi panas bumi berasal dari panas alami yang tersimpan di dalam bumi dalam bentuk air panas dan uap air bertekanan. Selanjutnya dengan menggunakan teknologi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP), energi dari dalam bumi tersebut diubah menjadi energi listrik yang dapat dimanfaatkan masyarakat.
Energi panas bumi merupakan energi terbarukan, yaitu energinya bisa terus menerus diambil dalam waktu yang sangat Panjang (ratusan tahun) dengan tidak merusak sumber panas nya. Fluida yang keluar dari sumur panas bumi yang telah diambil energi nya oleh pembangkit, selanjutnya fluida tersebut dikembalikan ke reservoir di bawah bumi melalui sistem reinjeksi sehingga sumber dayanya tetap terjaga untuk jangka yang sangat panjang.
Mengapa Indonesia harus memanfaatkan Energi Panas Bumi?
Adanya kondisi konflik konflik geopolitik, yang mengakibatkan ketidakstabilan pasokan minyak dan gas, tentu mempengaruhi bangsa Indonesia. Negara yang terlalu bergantung pada energi dari pasokan impor akan sangat rentan terhadap krisis energi dan tekanan ekonomi.
Pemerintah mengakui bahwa penggunaan panas bumi menjadi sangat penting bagi Indonesia, agar tidak terlalu bergantung kepada pasokan energi dari impor. Berikut ini adalah keunggulan strategis dari energi panas bumi: Berasal dari sumber daya domestik Indonesia, akan mengurangi kebutuhan impor bahan bakar, dapat beroperasi 24 jam sehari tanpa bergantung cuaca, dan dapat berfungsi sebagai pembangkit baseload yang menjaga kestabilan sistem kelistrikan.
Menurut International Renewable Energy Agency (IRENA), panas bumi memiliki keunggulan unik dibandingkan banyak energi terbarukan lainnya karena mampu beroperasi sepanjang tahun dengan faktor kapasitas yang sangat tinggi (high capacity factor), sehingga dapat menyediakan listrik secara stabil selama 24 jam sehari sepanjang tahun. Kondisi ini tentu sangat menguntungkan bagi bangsa Indonesia dan dapat mengurangi ketergantungan energi dari import.
Memanfaatkan energi panas bumi secara bertanggung jawab merupakan salah satu wujud syukur bangsa Indonesia terhadap Rahmat dari Allah. Allah berfirman dalam al-quran: “Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya sebagai rahmat dari-Nya.” (QS. Al-Jatsiyah: 13).
Energi Bersih Membantu Menjaga Bumi
Panas bumi merupakan sumber energi dengan emisi karbon yang sangat rendah yang mampu menghasilkan listrik tanpa proses pembakaran bahan bakar fosil. Selain itu, panas bumi mampu menyediakan listrik yang andal sekaligus mendukung transisi menuju sistem energi yang lebih berkelanjutan. Di tengah kekhawatiran terhadap perubahan iklim, panas bumi menawarkan solusi energi yang bersih dibandingkan bahan bakar fosil (minyak, gas dan Batubara).
Berikut ini manfaat bagi lingkungan dari panas bumi antara lain: membantu mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil (khusus nya dari import), emisi karbon jauh lebih rendah dibandingkan batu bara dan minyak bumi, pembangkit panas bumi tidak menghasilkan abu pembakaran seperti PLTU batu bara, dan tidak mencemari tanah dan Sungai karena panas bumi memanfaatkan sistem reinjeksi fluida untuk menjaga keberlanjutan reservoir.
Menurut data yang disampaikan oleh Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, persaat ini dengan pengembangan panas bumi 2,7 GW telah membantu mengurangi emisi sekitar 17,4 juta ton CO₂ per tahun, sekaligus memberikan manfaat ekonomi yang besar bagi negara. Pegembangan tambahan dari kapasitas panas bumi tentu akan mengurangi emisi lebih besar lagi.
Menjawab Kekhawatiran Pengembangan Panas Bumi
Kita akui bahwa ada kekhawatiran pada Sebagian Masyarakat bahwa pengembangan panas bumi dapat merusak lingkungan atau memicu bencana. Hal ini tentu perlu dihargai karena menunjukkan kepedulian mereka terhadap kelestarian alam. Secara ilmiah, telah dimaklumi oleh banyak ahli, bahwa sebagian besar kekhawatiran tersebut tidak sepenuhnya sejalan dengan karakteristik sistem panas bumi itu sendiri.
Misalnya pengeboran panas bumi sering dikaitkan dengan ketakukan terjadinya kasus semburan lumpur seperti di Sidoarjo. Padahal, sistem panas bumi pada batuan vokanik sangat berbeda dengan sistem minyak dan gas pada batuan sedimen. Pada sistem panas bumi, fluida yang dominan adalah air panas dan uap yang berada pada batuan vulkanik, tidak memiliki lumpur seperti pada sistem sedimen tertentu.
Untuk diketahui Bersama, Indonesia telah mengoperasikan lapangan panas bumi selama puluhan tahun. Lapangan Kamojang Jawa barat sudah mulai beroperasi sejak 1983 dan merupakan salah satu contoh keberhasilan pemanfaatan panas bumi yang hingga kini terus memberikan manfaat bagi masyarakat dan sistem ketenagalistrikan nasional.
Pengeboran panas bumi pertama di Indonesia dilakukan pada tahun 1926 (100 tahun lalu) oleh Ahli Belanda dan sumur itu masih aktif di Kamojang, tanpa adanya semburan lumpur atau lainya dan hanya mengeluarkan uap panas alami. Saat ini, telah terdapat belasan lapangan panas bumi yang telah beroperasi dengan aman dan memberikan manfaat pada kelistrikan negara dan Masyarakat sekitar, dari mulai lapangan di jawa barat, jawa timur, Lampung, Nusa Tenggara, Sulawesi, Sumatera Utara, Sumatera Selatan dan lainnya.
Pembukaan lahan pada pemanfaatan panas bumi, jauh lebih kecil ukurannya dibandingan dengan pembukaan lahan pada pengambilan tambang mineral, Batubara dan bahkan minyak dan gas bumi. Bukaan lahan pada panas bumi, jauh lebih kecil namun manfaat emisi nya jauh lebih besar mengurangi emisi karbon dengan sangat besar dibandingkan energi fosil.
Mitigasi Risiko Dilakukan Dengan Baik Sejak Awal
Pengembangan panas bumi modern tidak dilakukan secara sembarangan. Berbagai langkah mitigasi risiko telah menjadi bagian dari standar industri. Beberapa langkah tersebut meliputi:
1) Kajian geologi, geofisika, geokimia, dan lingkungan sebelum pengeboran.
2) Penggunaan casing baja dan semen khusus untuk menjaga keamanan sumur, menghilangkan resiko blow out atau kebocoran gas.
3) Reinjeksi fluida guna menjaga keseimbangan reservoir.
4) Monitoring kualitas air, udara, dan kebisingan secara berkala.
5) Pemantauan aktivitas mikroseismik menggunakan instrumen khusus dan canggih.
6) Pengawasan pemerintah dan tenaga ahli yang kompeten.
7) Sosialisasi, Edukasi dan konsultasi publik untuk meningkatkan pemahaman Masyarakat.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa keselamatan masyarakat dan perlindungan lingkungan merupakan bagian penting dari setiap tahapan pengembangan panas bumi.
Mari Kembangkan Potensi Menjadi Keberkahan
Potensi panas bumi Indonesia yang sangat besar ini hanya akan memberikan manfaat yang lebih besar lagi ketika mampu dikembangkan menjadi pembangkit Listrik atau pemanfaatan langsung lainnya untuk kemajuan bangsa dan kesejahteraan masyarakat. Menurut data pemerintah, pengembangan panas bumi tidak hanya menghasilkan listrik, tetapi juga mendorong investasi, membuka lapangan kerja, meningkatkan pembangunan daerah, dan memperkuat ketahanan energi nasional.
Kementerian ESDM mencatat bahwa pengembangan panas bumi telah berkontribusi pada penciptaan ratusan ribu lapangan kerja serta mendorong pertumbuhan ekonomi di berbagai wilayah dimana energi panas bumi dikembangkan. Dengan potensi lebih dari 23 GW yang belum dimanfaatkan secara optimal, panas bumi memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu pilar utama pembangunan Indonesia di masa depan.
Panas bumi adalah salah satu karunia Allah bagi bangsa Indonesia. Di tengah tantangan krisis energi global, perubahan iklim, dan kebutuhan pembangunan yang terus meningkat, panas bumi menawarkan solusi yang bersih, andal, terbarukan, dan berasal dari tanah air sendiri. Berbagai data menunjukkan bahwa Indonesia memiliki potensi panas bumi terbesar di dunia dengan cadangan mencapai sekitar 23 GW, namun baru sekitar 12% yang dimanfaatkan. Artinya, masih terbuka peluang yang sangat besar bagi bangsa ini untuk mengubah karunia tersebut menjadi sumber kemakmuran dan kedaulatan energi.
Allah berfirman dalam al-Quran: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia; berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi.” (QS. Al-Qashash: 77).
Sebagai penutup pada artikel ini, semoga tulisan ini bisa menambah wawasan pemahaman bahwa pengembangan energi panas bumi bukan sekadar bisnis proyek energi, melainkan bentuk Syukur atas karunia Allah demi kemaslahatan Bersama dan menjaga kemandirian energi.
Dengan pengelolaan panas bumi yang baik dan bertanggungjawab, ilmu pengetahuan yang cukup dan niat yang tulus, pengembangan panas bumi dapat menjadi sarana memperkuat kedaulatan bangsa, meningkatkan kesejahteraan rakyat, sekaligus bagian menjaga kelestarian alam dan mengurangi emisi karbon. Wallahualam bishawab











