CiremaiNews.id,Kuningan- Pementasan drama Sesal Somantri yang digelar Teater Pecut Universitas Kuningan (Uniku) berkolaborasi dengan Pusaka Aria Kamuning 3 (PAK 3) berhasil menarik 7.601 penonton. Menariknya, mayoritas penonton yang menyaksikan pertunjukan di Gedung Kesenian Raksawacana Kuningan tersebut berasal dari kalangan pelajar.
Pementasan berlangsung pada 21 September hingga 4 Oktober 2026. Tingginya antusiasme masyarakat membuat jadwal pertunjukan ditambah pada 10-11 Oktober 2026.
Konflik bermula ketika Bambang Somantri harus mengikuti sayembara untuk memenangkan Dewi Citrawati bagi Raja Arjuna. Berbekal keberanian dan kesaktiannya, ia berhasil mengalahkan 16 raja. Namun, keberhasilan itu justru memunculkan konflik batin ketika dirinya jatuh cinta kepada Dewi Citrawati dan enggan menyerahkannya kepada sang raja.
Pertentangan tersebut berujung pada pertarungan yang membuat Bambang Somantri kalah. Meski demikian, kesempatan untuk meraih jabatan mahapatih kembali terbuka melalui tugas memindahkan Taman Sriwedari dari gunung ke alun-alun Maespati.
Dengan bantuan Sokrasana, tugas tersebut berhasil diselesaikan. Namun, Bambang Somantri justru merasa malu memperlihatkan adiknya kepada Arjuna karena penampilan fisik Sokrasana.
Dalam kepanikan dan luapan emosinya, panah Cakra Baswara yang dipegang Bambang Somantri terlepas dan mengenai Sokrasana. Peristiwa tragis itu menjadi penyesalan terbesar dalam hidupnya karena adik yang selama ini setia membantu justru menjadi korban tindakannya sendiri.
Kisah tersebut menghadirkan pesan tentang ambisi, kesetiaan, pengorbanan, dan konsekuensi dari keputusan yang diambil tanpa mempertimbangkan nilai-nilai kemanusiaan.
Banyaknya pelajar yang menyaksikan pertunjukan ini juga menjadi bagian penting dari capaian pementasan. Selain menjadi ruang apresiasi seni, drama tersebut menjadi sarana pengenalan kisah pewayangan dan nilai kehidupan kepada generasi muda melalui pertunjukan langsung.
Kolaborasi Teater Pecut Universitas Kuningan dan Pusaka Aria Kamuning 3 melalui Sesal Somantri sekaligus menghadirkan upaya mempertemukan tradisi budaya dengan kehidupan masyarakat masa kini.(Tatang Budiman)











