Curik Bali Nyaris Punah, Sempat Tersisa 4 Ekor Kini Populasinya Tembus 600 Individu

by
banner 468x60

CiremaiNews.id,Bogor– Curik bali pernah berada di titik paling mengkhawatirkan. Pada 2004, populasi burung endemik Indonesia itu di kawasan Bali Barat bahkan disebut hanya tersisa empat individu.Kini kondisinya berubah. Berkat upaya konservasi yang melibatkan berbagai pihak, populasi curik bali di Bali Barat telah berkembang hingga lebih dari 600 individu.

Pendiri Forum Konservasi Satwa Liar Indonesia (Foksi), Tony Sumampau, menceritakan keberhasilan tersebut saat ditemui di Taman Safari Bogor dalam kegiatan Orientasi Wartawan Konservasi 2026, Jumat (21/8/2026).

banner 336x280

Menurut Tony, salah satu langkah penting dalam menyelamatkan Curik Bali adalah pembentukan Asosiasi Pelestari Curik Bali (APCB) yang diinisiasi Foksi.Foksi kemudian merangkul berbagai pihak yang memiliki perhatian terhadap kelestarian curik bali.

Salah satunya Yokohama Research Center.Upaya penangkaran dan konservasi yang dilakukan secara berkelanjutan akhirnya mulai menunjukkan hasil setelah lebih dari satu dekade.”Semula pada 2004, populasi curik bali di Bali Barat tidak lebih dari empat individu. Setelah Foksi merangkul berbagai pihak, salah satunya Yokohama Research Center, jumlahnya terus meningkat,” ujar Tony.

Tony mengatakan keberhasilan konservasi curik bali tersebut kini tidak hanya dikenal di Indonesia, tetapi juga mendapat perhatian dari dunia internasional.Namun, ia menilai masih ada pekerjaan rumah dalam pengelolaan konservasi satwa liar di Indonesia, terutama berkaitan dengan dukungan dan penghargaan terhadap para pelaku konservasi.

“Keberhasilan kita lumayan sangat dikenal. Bukan cuma di Indonesia saja, tetapi juga di luar negeri. Hanya, pemerintah kita belum mempercayai. Orang-orang kita yang bekerja belum dikasih penghargaan,” katanya.

Di tengah keberhasilan menyelamatkan curik bali, Tony mengingatkan ancaman terhadap satwa liar di Indonesia masih terjadi.Salah satunya berasal dari kebiasaan masyarakat memelihara burung berkicau di rumah.

Menurutnya, kebiasaan tersebut jika tidak dibarengi kesadaran konservasi dapat berpengaruh terhadap keberadaan burung di alam.Tony juga menyoroti masih adanya masyarakat yang belum memahami pentingnya menjaga satwa liar.Ia mencontohkan kasus tapir yang dibunuh kemudian dikonsumsi warga.

Ada pula harimau sumatera yang mati setelah terjerat.”Kita merasa masyarakat belum begitu paham tentang suatu hal yang begitu penting untuk dilestarikan. Kita lihat tapir yang akhirnya juga dibunuh dan dimakan. Harimau sumatera yang terjerat dan mati,” tuturnya.

Kasus terbaru yang disorot Tony yakni macan kumbang yang terjerat hingga mengalami patah kaki. Kondisi satwa tersebut sangat lemah hingga akhirnya tidak berhasil diselamatkan.”Terakhir macan kumbang terjerat dan kakinya patah juga akhirnya mati tidak tertolong karena kondisinya sangat lemah,” ujarnya.

Sementara itu, Presiden Direktur Taman Safari Indonesia, Aswin Sumampau, menilai Foksi perlu terus mengambil peran dalam menghadapi berbagai persoalan konservasi satwa liar.Foksi diharapkan tidak hanya menjadi forum bertukar gagasan, tetapi juga menjadi salah satu pilar edukasi konservasi bagi masyarakat Indonesia.

Foksi sendiri berdiri sejak 1998 sebagai wadah bagi berbagai pihak untuk bertukar pendapat dan mencari solusi terkait keberlangsungan hidup satwa liar, terutama satwa endemik Indonesia.Upaya konservasi tersebut menjadi penting karena Indonesia memiliki kekayaan biodiversitas yang sangat besar.Berdasarkan studi Eko Setiawan yang dipublikasikan dalam Jurnal Sosiologi Dialektika Sosial pada 2022, kekayaan biodiversitas terrestrial Indonesia merupakan yang tertinggi kedua setelah Brasil.Indonesia disebut memiliki sekitar 300.000 jenis spesies satwa atau sekitar 17 persen dari jumlah satwa di dunia.

Sementara itu, kekayaan satwa khas Indonesia juga terlihat dari jumlah spesies burung yang mencapai sekitar 1.539 jenis.Keberhasilan menyelamatkan curik bali dari kondisi kritis menjadi salah satu bukti bahwa kolaborasi berbagai pihak dapat memberikan dampak nyata terhadap kelestarian satwa liar.Namun, upaya tersebut tetap membutuhkan dukungan berkelanjutan agar satwa endemik Indonesia tidak kembali berada di ambang kepunahan.(Ai SN)

banner 336x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.