CiremaiNews.id,Kuningan – Maraknya dugaan Kejadian Luar Biasa (KLB) dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi perhatian serius. Untuk mengantisipasi risiko tersebut, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Cidahu Cieurih 3, Kabupaten Kuningan, menggelar sosialisasi keamanan pangan sekaligus memasang poster edukasi di lokasi penerima manfaat.
Kegiatan ini dilakukan sebagai upaya meningkatkan kewaspadaan terhadap makanan yang tidak layak konsumsi, sekaligus mengedukasi penerima manfaat agar mengenali tanda-tanda makanan yang berpotensi membahayakan kesehatan.
Kepala SPPG Cidahu Cieurih 3, Deden Rusmana, S.P., mengatakan kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari pelaksanaan Surat Edaran Nomor 21 Tahun 2026 tentang penerapan label pada ompreng MBG.Label tersebut memuat informasi batas waktu konsumsi serta kontak pengaduan melalui berbagai kanal yang disediakan Badan Gizi Nasional (BGN).
Namun, penerapannya di lapangan masih menghadapi sejumlah kendala, mulai dari penambahan sampah label hingga bertambahnya tahapan pekerjaan dan efektivitas penyampaian informasi kepada penerima manfaat.Karena itu, SPPG Cidahu Cieurih 3 menambahkan media edukasi berupa poster yang ditempel di lokasi penerima manfaat.
Poster tersebut diharapkan menjadi pengingat yang mudah dibaca setiap kali makanan MBG didistribusikan.Dalam sosialisasi tersebut, penerima manfaat diberikan pemahaman mengenai sejumlah tanda makanan yang perlu diwaspadai, di antaranya perubahan warna menjadi pucat atau tidak seperti biasanya, aroma anyir, asam, atau tengik, serta munculnya bercak putih, hijau, maupun hitam.
Selain itu, makanan yang terasa berlendir saat disentuh juga perlu dicurigai sebagai makanan yang tidak layak dikonsumsi.Meski demikian, tidak semua makanan yang terkontaminasi menunjukkan perubahan bau, warna, atau tekstur.
Karena itu, penerima manfaat tetap harus memperhatikan batas waktu konsumsi, petunjuk penyimpanan, dan prosedur keamanan pangan yang berlaku.Deden menambahkan, sosialisasi keamanan pangan akan dilaksanakan secara rutin melalui kunjungan bergilir ke setiap kelompok penerima manfaat (KPM).
Seluruh personel SPPG akan dilibatkan secara bergantian, mulai dari kepala SPPG, asisten lapangan, pengawas gizi, hingga pengawas keuangan.
“Melalui edukasi berkelanjutan ini, SPPG Cidahu Cieurih 3 berharap pengawasan keamanan pangan tidak hanya menjadi tanggung jawab petugas, tetapi juga melibatkan penerima manfaat. Dengan begitu, program MBG dapat berjalan lebih aman, terpantau, dan memberikan manfaat gizi sesuai tujuan,”terang Deden
Sementara itu Asisten Lapangan (Aslap) SPPG Cidahu Cieurih 3, Yayan Henri Danisukmara, menekankan pentingnya sinergi antara pihak SPPG dan penanggung jawab atau PIC di lokasi penerima manfaat.
Menurutnya, apabila ditemukan indikasi makanan tidak layak konsumsi, langkah pencegahan harus segera dilakukan dengan menghentikan distribusi atau konsumsi makanan yang dicurigai serta mengomunikasikan temuan tersebut kepada pihak SPPG untuk ditindaklanjuti.
“Langkah cepat ini dinilai penting agar makanan yang berpotensi membahayakan tidak sampai dikonsumsi oleh penerima manfaat lainnya,”tandas Yayan
Sementara itu para pihak penerima manfaat pun mengapresiasi kegiatan sosialisasi tersebut. Keberadaan poster dinilai membantu karena informasi dapat dibaca berulang kali dan menjadi pengingat saat proses distribusi MBG berlangsung.(Tatang Budiman)














